Jumat, 20 Januari 2017

Laptop Microsoft Surface Book Diperbarui, Core i7 dan Baterai 16 Jam

Microsoft memperbarui laptop Surface Book dengan baterai dengan daya tahan lebih lama, klaimnya sekitar 16 jam pemakaian. Selain itu, ada juga sejumlah fitur dan hardware baru yang disematkan ke dalamnya.



Surface Book kali ini bisa dikatakan memiliki kinerja paling kuat. Pasalnya, selain daya tahan baterai tingkat tinggi, Microsoft juga menyematkan sejumlah hardware yang mumpuni.

Surface Book edisi baru mengusung prosesor Core i7 dari generasi prosesor ke-enam Intel, Skylake. Sebelumnya, Intel hanya memasang proseosr Core i5.

Disebut sebagai "ultimate laptop," Corporate Vice President for Surface Computing, Panos Panay mengatakan tujuan dari upgrade Surface Book ini sederhana: "Kami menanamkan prosesor Core i7 dan menambahkannya lagi."

Tambahan yang dimaksud adalah prosesor grafis (GPU) Nvidia GeForce GTX965M dengan kinerja dua kali lipat dibanding GPU Surface Book sebelumnya, yakni mencapai 1,9 teraflops.

"Engineer dan gamer membutuhkan daya kinerja tinggi dari laptop, makanya diberi upgrade ini," kata Panay.

Selain itu, ada sistem pendingin dengan desain baru dan tambahan kipas, sehingga membuat Surface Book edisi baru kali ini terlihat sedikit "gemuk."

Dengan seluruh hardware dan fitur baru itu, Surface Book kali ini menjadi sedikit lebih berat. Bobot Surface Book edisi 2016 sekitar 1,6 kg, sedangkan Surface Book edisi pertama hanya sekitar 1,5 kg.

Sebagaimana dilansir KompasTekno dari The Verge, Kamis (27/10/2016), Surface Book mulai dijual pada 10 November 2016 mendatang, dengan tiga pilihan kapasitas memori internal.

Ketiganya adalah 256 GB seharga 2.399 dollar AS (sekitar Rp 31,2 juta); 512 GB seharga 2.799 dollar AS (sekitar Rp 36,4 juta); dan 1 TB seharga 3.299 dollar AS (sekitar Rp 42,9 juta).

Sesi pemesanan saat ini sudah dibuka Microsoft, namun dalam jumlah terbatas.

Sekadar diketahui, Microsoft merilis Surface Book pertama kali pada 2015 lalu. Laptop tipis ini memiliki layar yang bisa dilepas dan difungsikan sebagai tablet. Generasi pertama Surface Book dibekali baterai yang diklaim kuat bertahan sekitar 12 jam.

Minggu, 15 Januari 2017

Penjualan iPhone di Dunia Turun

 Apple baru saja mengumumkan laporan keuangan kuartal empat 2016. Malangnya, isi laporan itu menyebut terjadinya penurunan penjualan iPhone di dunia, sehingga total pendapatan Apple pun turun.



Total pendapatan tersebut, sebagaimana dilansir KompasTekno dari Engadget, Kamis (27/10/2016), terdiri dari hasil penjualan semua jenis perangkat genggam Apple, yaitu iPhone, iPad serta Mac.

Nilai penjualan masing-masing perangkat tersebut adalah, 45,5 juta iPhone, 9,3 juta iPad serta 4,9 miliar Mac. Secara perhitungan year-on-year, total penjualan 2016 menunjukkan adanya penurunan 5,2 persen pada iPhone, 6 persen pada iPad, serta 14 persen pada Mac.

Secara nilai, total pendapatan Apple di kuartal empat 2016 lalu adalah 46,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 609,8 triliun.

Kendati angka tersebut masih tergolong besar, namun ada indikasi penurunan sekitar 9 persen dibandingkan pendapatan perusahaan pada kuartal empat tahun lalu, yang mencapai 51,50 miliar dollar atau sekitar Rp 669,6 triliun.

Apple memang masih memiliki sejumlah produk lain, seperti Watch, earphone Beats, dan iPod. Namun produk-produk itu belum mampu berkontribusi banyak pada pendapatan Apple.  Pemasukan yang diperoleh hanya 2,2 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 28,6 triliun. Terjadi penurunan pendapatan sebeasar 21 persen untuk produk kategori tersebut pada kuartal kali ini.

Meski sejumlah area mengalami penurunan penjualan, ada satu kabar baik dalam laporan keuangan tersebut. Pada total pendapatan dari seluruh produknya, ada iTunes Store dan Apple Music yang masih mencatat pertumbuhan.

iTunes Store dan Apple Music berhasil mengantongi pendapatan sebesar 6,3 miliar dollar AS atau sekitar Rp 81,9 triliun. Angka ini merepresentasikan kenaikan pendapatan sebesar 23,5 persen dibandingkan kuartal yang sama pada tahun lalu.

Selasa, 10 Januari 2017

Microsoft Surface Studio, Pesaing iMac Dijual Mulai Rp 39 Juta

Komputer iMac bikinan Apple selama ini selalu identik dengan desainer atau pekerja grafis. Akan tetapi, Apple sudah cukup lama tidak merilis iMac generasi baru.



Sadar ada celah, Microsoft memutuskan untuk menyaingi Apple melalui produk bikinannya. Dalam sebuah acara di New York, Microsoft resmi merilis penantang iMac, Surface Studio.

"Kami percaya sepenuhnya bahwa Surface mengubah cara Anda memproduksi, menciptakan dan belajar. Produk yang akan saya pamerkan (Surface Studio) mengenai semua itu, tetapi satu langkah di depan," tutur Panos Panay, Corporate VP of Devices Microsoft, sebagaimana KompasTekno rangkum dari The Verge, Kamis (27/10/2016).

"Surface Studio akan tampak familiar, tetapi terasa berbeda," imbuhnya.

Tidak jauh berbeda dari iMac, Surface Studio masuk ke kategori komputer desktop all-in-one. Artinya, komponen-komponen, seperti motherboard, kartu grafis, dan RAM, sudah digabungkan menjadi satu dengan layar monitor.

Microsoft sendiri mengklaim layar monitor milik Studio sebagai yang tertipis di kategori all-in-one. Semua komponen berhasil dipadatkan ke layar dengan ketebalan 12,5 mm saja.

Layar tersebut juga tampak kokoh dengan rangka berbahan aluminium. Layar itu sendiri berbentang 28 inci dengan output 13,5 juta piksel, 63 persen lebih baik dari televisi 4K.

"Surface Studio memiliki layar terbaik di kelasnya," ujar Panay.

Secara mendetail, layar sentuh tersebut mendukung resolusi 4.500 x 3.000 piksel dengan rasio 3:2. Tingkat kerapatannya mencapai 192 ppi dengan dukungan jumlah sentuhan mencapai 10 titik. Layar ini sendiri diklaim akan sangat cocok bagi para desainer dan desain grafis.



Microsoft
Microsoft Surface Studio bisa diatur hingga sudut 20 derajat


Ditujukan bagi kalangan desainer, layar Surface Studio bisa diatur dengan sudut hingga 20 derajat. Dalam posisi ini, diharapkan pengguna dapat menggambar atau memeriksa dokumen dari Word dengan lebih nyaman.

Perangkat ini juga bisa dihubungkan dengan berbagai aksesori Microsoft, seperti Surface Pen dan Surface Dial.

Ada tiga model Surface Studio yang disiapkan oleh Microsoft. Ketiganya dibedakan berdasarkan spesifikasi.

Ketiga model itu dilengkapi dengan spesifikasi premium. "Otak" pemrosesannya diserahkan kepada generasi keenam dari Intel Core i5 atau i7.

Ada juga pilihan media penyimpanan sebesar 1 TB atau 2 TB. Untuk masalah RAM, ada pilihan 8 GB, 16 GB, atau 32 GB.

Kartu grafisnya sendiri terdiri dari GeForce GTX 965M 2 GB (untuk versi Intel Core i5) atau GTX 980M 4 GB (untuk versi Core i7).

Surface Studio baru dijual dalam jumlah terbatas di Amerika Serikat dengan harga 2.999 dollar AS (Rp 39 juta), 3.499 dollar AS (Rp 45 juta), hingga 4,199 dollar AS (Rp 54 juta), tergantung spesifikasi yang dipilih.

Kamis, 05 Januari 2017

Android Lenovo dan Moto di Indonesia Bakal "Beda Kelas"

Hari ini, Kamis (27/10/2016) Lenovo mulai memasarkan Android Moto E3 Power di pasar Indonesia.



Seri ponsel besutan Motorola ini akan dipasarkan di bawah brand Lenovo (Lenovo Moto), sesuai dengan status Motorola sebagai anak perusahaan Lenovo setelah diakuisisi pada 2014 lalu.

Country Lead Mobile Business Group Lenovo Indonesia Adrie R. Suhadi mengatakan, Pihaknya berniat membedakan segmen pasar Moto dengan ponsel bikinannya sendiri, misalnya dari seri Vibe, agar kedua merek tak saling berbenturan di pasaran.

"Idealnya nanti Lenovo itu di segmen middle dan affordable, sementara Moto main di middle dan high-end," kata Adrie saat ditemui di acara peluncuran Moto E Power di Jakarta, Rabu (26/10/2016).

Moto E3 Power merupakan produk perdana dari Lenovo yang sekaligus menandai kembalinya Motorola di pasaran ponsel Indonesia, setelah sempat absen selama beberapa tahun.

Dengan banderol Rp 1.899.000, Adrie mengakui bahwa Moto E3 Power bisa berbenturan dengan produk smartphone Lenovo di kelas harga yang sama, misalnya seri A6000.

"Merger Lenovo dan Moto masih dalam proses. Masih ada portofolio 'warisan' yang mesti kita bawa, Moto E3 misalnya. Makanya Moto E3 ini agak overlap dengan Lenovo," kelar Adrie mengenai kejanggalan segmentasi Moto E di kelas menengah, mengingat brand Moto nantinya ditujukan untuk kelas atas.

Beda kelas, beda gedung

Pembedaan "kelas" ponsel Lenovo dan Moto bisa ditelusuri sampai ke proses manufaktur di pabrik yang berlokasi di Serang, Banten. Menurut Adrie, meski sama-sama dirakit di kompleks yang sama, lini produksi ponsel Lenovo dan Moto sengaja dipisahkan di gedung berbeda.

Adrie mengatakan hal tersebut diperlukan lantaran proses produksi yang diperlukan memang berlainan. Dia mencontohkan proses nano-coating untuk melapis komponen-komponen hardware smartphone Moto supaya tahan air.



Oik Yusuf/ KOMPAS.com
Country Lead Mobile Business Group Lenovo Indonesia Adrie R. Suhadi saat memperkenalkan smartphone Android Moto E Power dalam acara peluncurannya di Jakarta, Rabu (26/10/2016).
"Itu butuh proses dan mesin tertentu. Prosesnya panjang meyakinkan Lenovo Global agar mempercayakan manufaktur (Moto) ke Indonesia, makanya Moto E3 Power baru hadir sekarang," katanya.

Ponsel Moto dirakit di pabrik TDK di Serang untuk memenuhi ketentuan Tingkat Kandungan Dalam Negeri. Lenovo memilih skema manufaktur (70 persen manufaktur, 20 persen R&D, dan 10 persen software) untuk pemenuhan TKDN ponsel Moto, setelah sebelumnya sempat menimbang untuk memilih jalur software.

Pergantian arah ini menurut Adrie disebabkan karena pertimbangan fasilitas produksi ponsel Lenovo yang sudah tersedia melalui kerja sama dengan pabrikan TDK. Karena itu, pihaknya memutuskan untuk memilih jalur manufaktur dengan memanfaatkan fasilitas pabrik yang sama.

Ponsel Moto saat ini diklaim sudah memiliki kandungan lokal sebesar lebih dari 20 persen. Untuk 10 persen sisanya, Adrie mengatakan sedang mempertimbangkan untuk mengambil kontribusi dari software dalam bentuk penyertaan aplikasi lokal. "Itu sedang kami eksplorasi," ujarnya.

Pede masuk high-end

Apabila portfolio produk Moto sudah lengkap nanti, Lenovo meyakini seri ponsel besutan Motorola itu bakal membantu mendongkrak perolehan bisnis ponsel Lenovo di segmen menengah atas yang selama ini kurang tercakup oleh ponsel Lenovo.

Adrie mengatakan pasaran ponsel high-end di Indonesia masih menyisakan ruang untuk pemain baru. "Apalagi, sekarang ada beberapa model kelas atas yang tidak bisa masuk, entah karena tersandung kasus atau TKDN. Ini adalah kesempatan Moto untuk masuk," ujarnya.

Dia masih belum memastikan ponsel Moto seri apa yang akan dijadikan andalan di segmen atas. Namun, di luar Moto E, Motorola memang memiliki beberapa model smartphone Moto yang mengisi segmen pasar berbeda, yakni Moto G, Moto Z di kelas premium.

Trio ponsel Moto Z, Moto Z Play, dan Moto Z Force Droid Edition mengusung konsep unggulan berupa komponen modular yang bisa diganti-ganti di punggung ponsel.

Soal kehadiran ponsel Moto Z tersebut,  4P Manager MBG Lenovo Indonesia Anvid Erdian sedikit memberikan kisi-kisi. "Moto Z sih Insya Allah akan hadir di Indonesia. Tunggu saja tanggal mainnya, kami sih ingin secepatnya," kata Anvid.

Jumat, 30 Desember 2016

Alphabet Temui Ditjen Pajak, Nego Pajak Google di Indonesia?

Perkembangan terbaru tentang kasus dugaan pengemplangan pajak Google di Indonesia, Eksekutif Senior Alphabet (perusahaan induk Google) dari Asia Pasifik dikabarkan telah bertemu dengan pejabat dari Direktorat Jenderal Pajak.



Petinggi Alphabet dikabarkan datang untuk melakukan negosiasi tagihan pajak Google di Indonesia. Namun, sumber yang dekat dengan permasalahan itu mengatakan, pertemuan tersebut belum menghasilkan kesepakatan apa-apa.

Direktorat Jenderal Pajak yang diwakili oleh Ken Dwijugiasteadi juga menolak mengonfirmasi, apakah benar pertemuan itu dilakukan pada Rabu (26/10/2016) lalu atau tidak.

"Nanti kalau waktunya sudah tepat, kami akan buat konferensi pers," katanya, seperti dikutip KompasTekno dari Reuters, Kamis (27/10/2016).

Sementara, juru bicara Google juga menolak untuk berkomentar soal hasil kunjungan tersebut.

Hadirnya pejabat Alphabet ke Indonesia mengindikasikan negosiasi yang alot antara Google dengan Ditjen Pajak. Sebelumnya, urusan tunggakan pajak ini hanya dibicarakan antara Google Indonesia dengan Ditjen Pajak saja.

Sebelumnya, pada September 2016 lalu, Ditjen Pajak mengaku telah menyambangi kantor Google Indonesia di kawasan Senayan untuk meminta penjelasan dari Google.

Karena menolak diperiksa, status pemeriksaan terhadap Google Indonesia kemudian ditingkatkan menjadi penyidikan oleh Ditjen Pajak.

Untuk diketahui, utang pajak Google di Indonesia pada kurun waktu 2015 saja ditaksir mencapai Rp 5 triliun. (Baca: Utang Pajak Google ke Indonesia Ditaksir Rp 5 Triliun Setahun)

Google sendiri melalui Head of Corporate Communication Google Indonesia, Jason Tedjasukmana mengatakan bahwa selama ini pihaknya telah membayar pajak dan mengikuti berbagai peraturan yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.

"PT Google Indonesia telah beroperasi sebagai perusahaan Indonesia sejak tahun 2011. Kami telah dan akan terus bekerja sama dengan Pemerintah Republik Indonesia dan telah dengan taat membayar semua pajak yang berlaku di Indonesia," ujar Jason saat itu.

Minggu, 25 Desember 2016

Menyusuri Kantor "Berjiwa Muda" Xiaomi di Beijing

Hugo Barra bergegas turun dari hoverboard yang ia tunggangi untuk sampai ke ruang kerjanya. KompasTekno dan awak media dari berbagai negara sudah lebih dulu tiba di ruangan bernuansa putih itu.



"Harusnya saya datang lebih awal," kata Vice President Xiaomi tersebut sembari tersenyum.

Barra lalu menyapa para jurnalis yang telah "lancang" masuk ke wilayah privatnya tanpa izin. Bahkan, beberapa jurnalis sempat menjepret sudut-sudut ruangan yang sejatinya tak boleh difoto apalagi dipublikasikan secara umum.

Namun ia toh tak marah. Para jurnalis yang merasa tak enak hati kemudian buru-buru meninggalkan ruangan setelah bertegur sapa dengan Barra.

"Nanti kita akan ketemu di bawah," ujar orang nomor satu Xiaomi dalam hal pemasaran produk itu.

Para jurnalis pun melanjutkan kunjungan ke sisi-sisi lain markas Xiaomi yang terletak di Distrik Haidian, Zhongguancun, Beijing, China. Rabu (26/10/2016) kemarin, kami menghabiskan sekitar dua jam untuk mengelilingi bangunan yang terdiri dari lima lantai tersebut.


Fatimah Kartini Bohang/kompas.com
KompasTekno berkunjung ke markas Xiaomi di Beijing, China, Rabu (27/10/2016).
Mula-mula, office-touring dimulai dari lantai 1 yang langsung mempertemukan kami dengan rumah mungil Wang Cai. Anjing tersebut adalah peliharaan seantero pegawai Xiaomi.

Wang Cai sebelumnya sering nongkrong di sekitar jalan dekat markas Xiaomi. Karena tak ada yang memiliki, manajemen Xiaomi memutuskan mengadopsi anjing tersebut dan menamainya Wang Cai. Nama itu sendiri berarti "beruntung".

Sayangnya, KompasTekno tak sempat bertemu Wang Cai karena kala itu ia sedang jalan-jalan ke luar. KompasTekno hanya bisa melihat wujud Wang Cai dari foto-foto yang ditempel di sekitar rumahnya.


Fatimah Kartini Bohang/kompas.com
KompasTekno berkunjung ke markas Xiaomi di Beijing, China, Rabu (27/10/2016).
Hal lain yang menarik perhatian KompasTekno adalah luncuran raksasa yang dipasang di sisi kiri lantai 1. Agaknya luncuran itu disediakan bagi mereka yang malas turun tangga. Sebab, letaknya berdampingan dengan tangga di lantai 1, untuk naik-turun dari dan ke lantai 2.
Mainan yang familiar dengan Taman Kanak-kanak (TK) itu seketika membersitkan memori masa kecil. Xiaomi sepertinya ingin para pegawainya selalu mengingat indahnya masa muda sehingga tetap berjiwa muda.

Lantai 1 sendiri memiliki tiga ruang utama yang terbagi atas lobi pintu masuk dan dua ruang kerja. Para pegawai yang bekerja di dua ruangan itu bertanggung jawab soal legalitas hukum dan administrasi.


Fatimah Kartini Bohang/KOMPAS.com
Kantor pusat Xiaomi di Beijing.
Naik ke lantai 2, ada beberapa meja dan kursi tempat nongkrong para pegawai. Mereka bisa mengobrol sembari menyeruput secangkir kopi atau teh. Lantai ini dikhususkan untuk divisi customer service.


Fatimah Kartini Bohang/KOMPAS.com
Kantor pusat Xiaomi di Beijing.
Nah, lantai 3 adalah sarangnya divisi global marketing. Di lantai ini, bagian pemasaran, PR, dan bisnis berkumpul. Ruangan Barra pun terletak di sini.

Bisa dibilang orang-orang di lantai 3 adalah sumber daya paling vital untuk menyampaikan filosofi Xiaomi ke khalayak, menyosialisasikan portofolio produk, menyusun strategi bisnis, serta menjamin citra brand Xiaomi selalu terjaga.

Lantai 3 sendiri adalah lantai tertinggi di markas Xiaomi. KompasTekno dan rekan-rekan media selanjutnya turun ke lantai B1 yang terletak di bawah lantai 1. B1 disediakan Xiaomi sebagai press room untuk para awak media.


Fatimah Kartini Bohang/KOMPAS.com
Kantor pusat Xiaomi di Beijing.
Terakhir, di bawah B1 ada B2. Ruangan paling bawah ini merupakan kantin untuk pegawai Xiaomi. Berbagai hidangan disediakan, mulai dari jenis mie, nasi, hingga kudapan. Di lantai ini, Barra menepati janjinya untuk bertemu kembali dengan awak media.

Untuk melihat foto-foto isi kantor Xiaomi lebih banyak lagi, kunjungi galeri KompasTekno di tautan berikut ini.

Selasa, 20 Desember 2016

Microsoft Rilis Surface Dial, Pengganti Mouse dengan Bentuk Unik

Microsoft resmi memperkenalkan aksesori Surface Dial dalam sebuah acara peluncuran di New York, AS, Rabu (26/10/2016) waktu setempat. Produk ini dirilis sebagai pendamping komputer Surface Studio yang juga dirilis pada acara yang sama.



Surface Dial merupakan alat input berbentuk unik. Ia mirip dengan kepingan yang dipakai dalam permainan hoki. Produk ini juga memiliki bentuk mirip speaker mini.

Microsoft membuat Surface Dial sebagai sebuah pengganti mouse yang bisa dipakai untuk memilih berbagai menu, mulai dari tingkat kecerahan layar hingga memilih warna pena di aplikasi desain.

Baca: Microsoft Surface Studio, Pesaing iMac Dijual Mulai Rp 39 Juta

Tak ada tombol layaknya sebuah mouse. Untuk mengendalikannya, pengguna cukup menyentuh permukaan Surface Dial atau memutarnya (bisa ke kanan atau kiri).

Surface Dial sendiri bisa dihubungkan ke perangkat lain menggunakan koneksi Bluetooth. Saat perangkat ini disentuhkan ke layar Surface Studio, akan muncul menu dalam bentuk cakram virtual. Putar alat itu, pengguna bisa mengakses berbagai perintah yang ada dalam cakram tersebut.

Microsoft sendiri sebenarnya merilisnya sebagai pelengkap Surface Studio. Namun, pengguna juga bisa memakainya dengan Surface Pro 3, Surface Pro 4, dan Surface Book. Meski begitu, Surface Dial hanya bisa berfungsi secara penuh di Surface Studio saja.

Baca: Laptop Microsoft Surface Book Diperbarui, Core i7 dan Baterai 16 Jam

Sebagaimana dilansir KompasTekno dari PC World, Kamis (27/10/2016), Microsoft kini sudah membuka pemesanan Surface Dial, dengan banderol harga 100 dollar AS atau sekitar Rp 1,3 juta.

Sekadar diketahui, Surface Dial ini sejatinya bisa dipakai oleh siapa pun. Namun, pengguna yang paling diuntungkan dan memerlukannya adalah seniman digital dan pekerja grafis.